umum1

Kedudukan Wanita di Dalam Rumah Tangga

Terdapat hubungan yang sangat erat antara wanita (istri) dengan rumah tempat ia tinggal. Hubungan ini telah ditegakkan pondasinya oleh Al-Qur’an. Allah ﷻ menisbatkan rumah kepada para istri mereka, padahal suamilah yang bersusah payah membangunnya serta memilikinya secara syariat dan hukum. Namun rumah itu tetap dinisbatkan kepada istri, bukan kepada suami. Dalam hal ini terdapat banyak hikmah dan faedah yang sering luput dari perhatian banyak suami. Di antara yang paling menonjol adalah sebagai berikut :

1. Keagungan Al-Qur’an dalam membina keluarga

Tampak jelas keagungan Al-Qur’an dalam mendidik jiwa dan menegakkan pondasi keluarga dengan

menjaga stabilitas, keamanan, dan kebahagiaannya.

2. Tingginya kedudukan wanita di rumah tangga

Al-Qur’an memberikan kedudukan mulia kepada wanita di rumah tangga, seolah-olah ia adalah pemilik hakiki rumah tersebut. Sebab dialah yang mengurus segala urusan di dalamnya: merawat, mendidik, memberi makan, mengawasi, mengatur, menindaklanjuti kebutuhan keluarga, membangun hubungan harmonis, dan urusan rumah tangga lainnya.

Allah ﷻ berfirman :

وَرَاوَدَتْهُ الَّتِي هُوَ فِي بَيْتِهَا عَنْ نَفْسِهِ ﴿
(QS. Yusuf: 23).

Artinya :

“Dan wanita yang dia (Yusuf) tinggal di rumahnya menggoda dirinya.”
(QS. Yusuf: 23).

Padahal Al-‘Aziz adalah penguasa besar, namun rumah itu dinisbatkan kepada istrinya. Allah ﷻ tidak mengatakan “di rumah suaminya”, tetapi :

فِي بَيْتِهَا ﴿

(QS. Yusuf: 23).

Artinya :

“Di rumahnya.”

(QS. Yusuf: 23).

Ini menunjukkan besarnya penghormatan wanita di rumahnya dan kerajaannya.

3. Rumah mulia dihiasi istri shalehah

Rumah yang bahagia dan baik tidak akan menjadi mulia kecuali dengan adanya istri yang shalehah, bertakwa, dan bersih hatinya.

Rumah-rumah Nabi ﷺ meskipun milik beliau, namun Allah ﷻ menisbatkannya kepada para istri beliau :

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ ﴿
(QS. Al-Ahzab: 33).

Artinya :

“Dan hendaklah kamu tetap di rumah-rumahmu.”
(QS. Al-Ahzab: 33).

وَاذْكُرْنَ مَا يُتْلَى فِي بُيُوتِكُنَّ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ وَالْحِكْمَةِ ﴿
(QS. Al-Ahzab: 34).

Artinya :

“Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumah-rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah.”
(QS. Al-Ahzab: 34).

Ayat ini ditujukan khusus kepada istri-istri Nabi ﷺ dan umum bagi wanita mukminah. Jika seorang wanita merenungi kehormatan ini, ia akan memahami bahwa ia harus menjaga rumahnya, merawatnya, senang mengurusnya, serta menjadi benteng kokoh dari segala ancaman yang merusak keluarga.

4. Istri adalah pemimpin di rumah suaminya

Wahai istri yang mulia, selama rumah itu rumahmu, kehormatannya kehormatanmu, dan urusannya berada di bawah tanggung jawabmu, maka engkau adalah pemimpin di dalamnya.

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi ﷺ bersabda :

جاء من حديث ابن عمر رضي الله عنهما عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: كلكم راعٍ، وكلكم مسؤول عن رعيته، والأمير راعٍ، والرجل راعٍ على أهل بيته، والمرأة راعية على بيت زوجها وولده، فكلكم راعٍ، وكلكم مسؤول عن رعيته

( HR. Bukhari ).

Artinya :

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya… seorang wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan terhadap anak-anaknya.”
( HR. Bukhari ).

Maka tanggung jawab pertama yang harus dijaga adalah memenangkan hati suami dengan cinta, kasih sayang, penghormatan, dan penghargaan. Itu lebih besar nilainya daripada seluruh harta di rumah.

5. Menjaga nikmat rumah tangga

Jika seseorang diberi nikmat oleh Allah ﷻ, maka ia wajib bersyukur dan menjaganya.

Allah ﷻ berfirman :

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ﴿
(QS. Ibrahim: 7).

Artinya :

“Jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepada kalian.”
(QS. Ibrahim: 7).

Rumah tangga adalah nikmat besar. Menjaganya termasuk bentuk ketaatan kepada Allah ﷻ, menaati Rasul-Nya ﷺ, menaati suami dalam perkara ma’ruf, mendidik anak-anak, serta merawat keluarga.

Karena itu, terlalu sering keluar rumah tanpa kebutuhan bisa menjadi sebab rusaknya rumah tangga dan hilangnya keharmonisan.

6. Cara menjaga rumah tangga : dengan Al-Qur’an dan Sunnah

Allah ﷻ berfirman :

وَاذْكُرْنَ مَا يُتْلَى فِي بُيُوتِكُنَّ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ وَالْحِكْمَةِ ﴿
(QS. Al-Ahzab: 34).

Artinya :

“Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumah-rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah.”
(QS. Al-Ahzab: 34).

Isyarat ayat ini adalah bahwa rumah tangga akan kokoh dengan ilmu agama. Maka seorang istri hendaknya tidak hanya sibuk menghias dan membersihkan rumah, tetapi juga menyediakan waktu untuk belajar Al-Qur’an dan Sunnah bersama suami serta anak-anaknya.

7. Saat terjadi talak, rumah tetap dinisbatkan kepada istri

Betapa agung syariat Islam. Bahkan ketika terjadi konflik dan talak raj’i, Allah ﷻ melarang suami mengusir istrinya dari rumah.

Allah ﷻ berfirman :

لَا تُخْرِجُوهُنَّ مِنْ بُيُوتِهِنَّ ﴿
(QS. Ath-Thalaq: 1).

Artinya :

“Janganlah kalian keluarkan mereka dari rumah-rumah mereka.”
(QS. Ath-Thalaq: 1).

Padahal rumah itu milik suami secara materi, namun Allah ﷻ tetap menyebutnya rumah mereka (istri). Ini menunjukkan bahwa kepemilikan maknawi wanita terhadap rumah sangat kuat.

Ayat ini juga mengajarkan agar wanita tidak keluar tergesa-gesa, namun berusaha berdamai, berbuat baik, memperbaiki hubungan, agar hati kembali lunak dan rujuk dapat terjadi sebelum masa iddah berakhir.

Catatan penting

Jika seorang wanita melanggar batasan Allah ﷻ dan melakukan perbuatan keji yang nyata, maka ia kehilangan kehormatan tersebut.

Allah ﷻ berfirman :

وَاللَّاتِي يَأْتِينَ الْفَاحِشَةَ مِنْ نِسَائِكُمْ … فَأَمْسِكُوهُنَّ فِي الْبُيُوتِ ﴿
(QS. An-Nisa: 15).

Artinya :

“Dan terhadap wanita-wanita di antara kalian yang melakukan perbuatan keji… maka kurunglah mereka di rumah-rumah.”
(QS. An-Nisa: 15).

Ini menunjukkan bahwa kehormatan rumah tangga harus dijaga dengan ketaatan dan kesucian diri.

Penutup

Mungkin timbul pertanyaan : mengapa rumah tidak dinisbatkan kepada laki-laki ?

Seakan syariat menjawab : karena laki-laki pada umumnya diciptakan untuk banyak beraktivitas di luar rumah, mencari rezeki, berdakwah, belajar, mengajar, melayani masyarakat, dan berbagai kemaslahatan lainnya.

Sedangkan wanita memiliki peranan besar dalam memakmurkan rumah dari dalam.

Maka kita memuji Allah ﷻ atas Al-Qur’an dan syariat yang agung, yang menata kehidupan manusia dengan keadilan, hikmah, dan keseimbangan. Dengan berpegang teguh pada syariat-Nya, akan tercapai kebahagiaan di dunia dan kemenangan di akhirat.

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *