masjid nabawi

Kematian : Penasihat yang Fasih dan Guru yang Bijaksana

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Segala puji bagi Allah ﷻ, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah ﷺ, keluarga beliau, para sahabat, dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman.

Sesungguhnya kematian adalah musibah terbesar, bencana paling dahsyat, bahkan Allah ﷻ sendiri menamainya sebagai musibah. Allah ﷻ berfirman :

إِنْ أَنْتُمْ ضَرَبْتُمْ فِي الْأَرْضِ فَأَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةُ الْمَوْتِ ﴿
“Jika kalian bepergian di muka bumi lalu kalian ditimpa musibah kematian.”
(QS. Al-Mā’idah: 106).

Musibah adalah bencana besar dan petaka dahsyat. Maka kematian adalah kesulitan yang paling berat dan malapetaka yang paling besar, yang hakikatnya tidak akan benar-benar dipahami kecuali oleh orang yang telah mengalaminya. Jika kematian disebut sebagai musibah dalam ketetapan Sang Pencipta, maka bagaimana lagi dalam pandangan makhluk ?

Kematian sebagai Sekolah Kehidupan

Hakikatnya, kematian adalah sekolah yang luar biasa, guru yang agung, penasihat yang bijaksana, dan pelajaran yang paling jelas. Ia adalah nasihat yang hidup, yang kita saksikan setiap siang dan malam, pagi dan petang.

Kematian seakan menyeru seluruh manusia :

Bangunlah dari kelalaian kalian, sadarilah kehidupan kalian, taatilah Rabb kalian, dan tinggalkan kemaksiatan.

Allah ﷻ berfirman:

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ ﴿
“Bersegeralah kalian menuju ampunan dari Rabb kalian dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.”
(QS. Āli ‘Imrān: 133).

Setiap saat kita menyaksikan manusia meninggalkan dunia dan masuk ke dalam kubur, tanpa pernah kembali selamanya. Kematian seakan berkata kepada seluruh makhluk :

Aku akan kembali lagi dan lagi, hingga aku mengambil seluruh jiwa kalian.

Allah ﷻ berfirman:

كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ • وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ ﴿
“Semua yang ada di bumi akan binasa, dan yang kekal hanyalah wajah Rabb-mu yang memiliki keagungan dan kemuliaan.”
(QS. Ar-Raḥmān: 26–27).

Pelajaran Agung dari Sekolah Kematian

1. Allah Maha Menghidupkan dan Mematikan

Kematian mengajarkan bahwa Allah ﷻ semata yang menghidupkan dan mematikan. Dia Maha Hidup dan tidak mati. Allah ﷻ berfirman :

وَأَنَّهُ هُوَ أَمَاتَ وَأَحْيَا ﴿
“Dan sesungguhnya Dialah yang mematikan dan menghidupkan.”
(QS. An-Najm: 44).

Menghidupkan adalah karunia, dan mematikan adalah keadilan. Setiap saat Allah  mematikan sebagian makhluk dan menghidupkan sebagian yang lain. Ini adalah hakikat iman yang tidak diragukan oleh seorang mukmin.

2. Kematian Mematikan Penyakit Menunda-nunda

Sekolah kematian adalah pedang tajam yang memutus penyakit menunda taubat. Banyak manusia terjerumus ke dalam kebinasaan karena terus menunda memperbaiki diri.

Kematian mengajarkan agar seorang hamba :

  • segera bertaubat,
  • menghisab dirinya,
  • membersihkan hatinya,
  • dan meninggalkan sebab – sebab kelalaian,

sebelum kematian datang tiba-tiba tanpa peringatan, baik kepada :
yang muda maupun tua, sehat maupun sakit, kaya maupun miskin, pemimpin maupun rakyat.

Allah berfirman :

حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ ﴿
“Hingga apabila datang kematian kepada salah seorang dari mereka, ia berkata: ‘Wahai Rabbku, kembalikanlah aku.’”
(QS. Al-Mu’minūn: 99).

3. Kematian Menumbuhkan Harapan dan Rasa Takut

Sekolah kematian menanamkan harapan akan rahmat Allah dan rasa takut terhadap azab-Nya. Ia menghancurkan keputusasaan dan menumbuhkan optimisme.

Betapa banyak orang saleh yang akhir hidupnya buruk, dan betapa banyak pendosa yang bertaubat sebelum wafat, lalu husnul khatimah.

Rasulullah ﷺ bersabda tentang seorang pembunuh seratus jiwa yang bertaubat, lalu Allah menerima taubatnya (HR. Bukhari dan Muslim).

Namun pada saat yang sama, kematian mengingatkan agar kita tidak tertipu oleh masa lalu, karena yang dinilai adalah akhir kehidupan.

Kesalahan Manusia dalam Memahami Kematian

Sebagian manusia memahami kematian dengan pemahaman yang keliru. Mereka bersandar pada rahmat Allah , namun malas beramal.

Rasulullah ﷺ bersabda :

إِنَّ اللَّهَ جَعَلَ الرَّحْمَةَ مِائَةَ جُزْءٍ، فَأَمْسَكَ عِنْدَهُ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ جُزْءًا، وَأَنْزَلَ فِي الْأَرْضِ جُزْءًا وَاحِدًا
“Allah menjadikan rahmat itu seratus bagian, Dia menahan sembilan puluh sembilan bagian di sisi-Nya, dan menurunkan satu bagian ke bumi.”
(HR. Bukhari dan Muslim).

Hadits ini bukan untuk menumbuhkan kemalasan, tetapi untuk mendorong taubat dan kesungguhan beramal. Sebab husnuzan kepada Allah harus dibuktikan dengan amal saleh.

Kesalahan Terbesar : Menjadikan Kematian Alasan Bermaksiat

Sebagian manusia justru menjadikan kematian sebagai alasan untuk memuaskan syahwat dan menumpuk dunia. Allah berfirman :

وَقَالُوا مَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَا إِلَّا الدَّهْرُ ﴿
“Mereka berkata: ‘Tidak ada selain kehidupan dunia, kita hidup dan mati, dan tidak ada yang membinasakan kita selain waktu.’”
(QS. Al-Jātsiyah: 24).

Padahal Rasulullah ﷺ bersabda :

لَوْ كَانَتِ الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ اللَّهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ
“Seandainya dunia bernilai di sisi Allah sebesar sayap nyamuk…”
(HR. Tirmidzi).

Penutup

Orang-orang cerdas dan berakal menjadikan kematian sebagai bahan bakar semangat, bukan sumber keputusasaan. Mereka adalah termasuk :

  • memperbaiki hati,
  • menyucikan jiwa,
  • bersegera dalam amal saleh,
  • menjauhi maksiat,
  • dan mengajak manusia kepada jalan Allah .

Mereka memahami bahwa kematian bukan akhir segalanya, melainkan awal dari kehidupan yang hakiki.

اللَّهُمَّ أَحْسِنْ خَاتِمَتَنَا، وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *