Nama dan Kelahirannya :
Beliau adalah Ummul Mukminin Aisyah binti Abu Bakar Ash-Shiddiq رضي الله عنهما. Kunyah beliau adalah Ummu Abdullah, yaitu dinisbatkan kepada Abdullah, putra dari saudari beliau, Asma’.
Beliau رضي الله عنها dilahirkan pada tahun keempat dari masa kenabian (bi’tsah Nabi ﷺ).
Biografi dan Keutamaannya:
Beliau adalah Ash-Shiddiqah binti Ash-Shiddiq (putri dari orang yang sangat jujur), yang dibebaskan dari atas tujuh lapis langit. Allah ﷻ telah mensucikannya dalam Kitab-Nya dan menurunkan ayat-ayat tentangnya yang akan terus dibaca hingga hari kiamat.
Beliau termasuk sahabat yang paling fakih (mendalam ilmunya dalam agama), paling berilmu, paling banyak meriwayatkan hadits, dan paling baik pendapatnya. Para sahabat besar apabila menghadapi suatu permasalahan dalam agama, mereka meminta fatwa kepada beliau.
Abu Musa Al-Asy’ari رضي الله عنه berkata :
ما أَشْكَلَ علينا أمرٌ فسَأَلْنَا عنه عائشةَ إلَّا وَجَدْنَا عندَها فيه علمًا
Artinya : “Tidaklah kami menghadapi suatu perkara yang sulit lalu kami bertanya kepada Aisyah, kecuali kami dapati padanya ilmu tentang hal tersebut.”
Az-Zuhri رحمه الله berkata :
لو جُمِعَ علمُ عائشةَ إلى علمِ جميعِ أُمَّهاتِ المؤمنينَ وعلمِ جميعِ النِّساءِ؛ لَكَانَ علمُ عائشةَ أفضلَ
Artinya : “Seandainya ilmu Aisyah dikumpulkan dengan ilmu seluruh Ummul Mukminin dan seluruh wanita, niscaya ilmu Aisyah lebih utama.”
Nabi ﷺ telah diberi kabar tentang Aisyah sebelum menikahinya. Dalam sebuah hadits, beliau bersabda :
أُرِيتُكِ فِي الْمَنَامِ ثَلَاثَ لَيَالٍ، جَاءَ بِكِ الْمَلَكُ فِي سَرَقَةٍ مِنْ حَرِيرٍ، فَيَقُولُ: هَذِهِ امْرَأَتُكَ. فَأَكْشِفُ عَنْ وَجْهِكِ، فَإِذَا أَنْتِ فِيهِ، فَأَقُولُ: إِنْ يَكُ هَذَا مِنْ عِنْدِ اللهِ يُمْضِهِ
( HR. Bukhari dan Muslim ).
Artinya : “Aku diperlihatkan engkau (Aisyah) dalam mimpi selama tiga malam. Malaikat datang membawamu dalam sehelai kain sutra, lalu berkata: ‘Ini adalah istrimu.’ Maka aku membuka wajahmu, ternyata benar engkau di dalamnya. Lalu aku berkata: ‘Jika ini dari Allah, maka Dia akan mewujudkannya.’”
( HR. Bukhari dan Muslim ).
Nabi ﷺ menikahinya di Makkah saat ia berusia enam tahun, beberapa bulan sebelum hijrah. Kemudian kedua orang tuanya berhijrah bersamanya, dan Nabi ﷺ mulai hidup bersamanya di Madinah pada bulan Syawal tahun kedua Hijriyah, setelah Perang Badar, saat ia berusia sembilan tahun. Nabi ﷺ tidak menikahi seorang gadis (perawan) selain Aisyah.
Beliau ﷺ sangat mencintainya. Ketika beliau ditanya:
“Siapakah orang yang paling engkau cintai, wahai Rasulullah?”
Beliau menjawab:
“Aisyah.”
Ditanya lagi: “Dari kalangan laki-laki?”
Beliau menjawab:
“Ayahnya (Abu Bakar).”
( HR. Bukhari dan Muslim ).
Rasulullah ﷺ bersabda :
فَضْلُ عَائِشَةَ عَلَى النِّسَاءِ كَفَضْلِ الثَّرِيدِ عَلَى سَائِرِ الطَّعَامِ
(HR. Bukhari dan Muslim).
Artinya : “Keutamaan Aisyah atas seluruh wanita seperti keutamaan tsarid (makanan roti yang dicampur kuah dan daging) atas seluruh makanan.”
(HR. Bukhari dan Muslim).
Di antara keutamaannya رضي الله عنها adalah bahwa Malaikat Jibril عليه السلام pernah mengirimkan salam kepadanya melalui Nabi ﷺ.
Di antara keutamaannya juga, Nabi ﷺ apabila sakit, beliau ingin dirawat di rumah Aisyah.
Allah ﷻ juga memuliakannya dengan menjadikan saat-saat terakhir kehidupan Rasulullah ﷺ terjadi di rumahnya dan di pangkuannya. Aisyah رضي الله عنها berkata :
إنَّ مِنْ نِعَمِ اللهِ عليَّ: أنَّ رسولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم تُوُفِّيَ في بيتي، وفي يومي، وبينَ سَحْرِي ونَحْرِي
( HR. Bukhari dan Muslim ).
Artinya : “Termasuk nikmat Allah ﷻ kepadaku adalah bahwa Rasulullah ﷺ wafat di rumahku, pada hari giliranku, dan di antara dada dan leherku (di pangkuanku).”
( HR. Bukhari dan Muslim ).
Wafatnya:
Aisyah رضي الله عنها wafat di Madinah pada tahun 57 Hijriyah, pada malam Selasa, tanggal 17 Ramadan, setelah shalat witir, dalam usia 66 tahun.
Beliau telah berwasiat agar dimakamkan pada malam hari, maka beliau pun dimakamkan pada malam itu juga di Al-Baqi’. Yang menshalatinya adalah Abu Hurairah رضي الله عنه.

