akhlak 6

Tetangga yang Baik (الجار الطيب)

Salah satu hal terindah yang dapat menghiasi akhlak seseorang adalah mencintai kebaikan bagi orang lain. Terlebih lagi jika orang tersebut adalah tetanggamu, yang rumahnya berdekatan dengan rumahmu dan dinding rumahnya berdampingan dengan dinding rumahmu. Ia berusaha memberikan kebaikan kepadamu tanpa mengharapkan balasan, serta menjaga hubungan bertetangga dalam setiap perkataan dan perbuatannya.

Ia benar-benar menyadari hal itu dalam dirinya. Ia tidak pernah melewatkan kesempatan untuk mengucapkan salam kepada para tetangganya dan menyapa mereka, seakan-akan itu menjadi tanda kasih sayang dan penghormatan terhadap mereka. Para tetangganya merasakan akhlaknya yang mulia dan sikapnya yang lembut, sehingga hati mereka pun mencintainya dan menjadikannya sosok yang diperhatikan oleh banyak orang.

Suatu hari ia pernah memberikan bantuan kepadaku hingga aku merasa sangat berterima kasih kepadanya. Aku berkata kepadanya :
“Semoga Allah ﷻ memberkahimu wahai tetangga.”

Ia menjawab dengan senyumnya yang indah dan bercahaya :
“Ini adalah kewajibanku.”

Aku pun terkejut dengan jawabannya. Sikapnya itu meninggalkan kesan yang sangat positif dalam diriku dan membangkitkan banyak perasaan indah dalam hati.

Ia selalu berniat bahwa setiap amal yang ia lakukan adalah semata-mata karena Allah ﷻ. Ia yakin bahwa saling membantu dalam kebaikan adalah suatu kewajiban. Ia seperti lilin yang menyala, yang cahayanya menyebar ke seluruh lingkungan tempat tinggalnya. Ia telah mewujudkan apa yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ, sehingga nilai-nilai agama tampak nyata dalam dirinya.

Ia tidak pernah bersikap dibuat-buat atau berpura-pura. Sebaliknya, ia bertindak secara alami dan sederhana. Dari kesederhanaannya itu terpancar makna niat yang tulus dan kecintaan kepada kebaikan. Itulah sebab sebenarnya dari kejujurannya. Ia sering menunjuk ke arah rumahnya seolah-olah menegaskan hubungan bertetangga yang mengikat dirinya dengan para tetangganya.

Betapa indahnya jika seseorang hidup dalam naungan akhlak yang mulia. Sayangnya, nilai-nilai tersebut kini mulai jarang kita temui. Namun ia berusaha untuk menghidupkannya kembali, memberi semangat baru agar akhlak itu tidak punah dan hilang selamanya. Ia menjadi simbol dari segala kebaikan yang ingin ia tampakkan.

Pekerjaannya sangat sederhana, tetapi ia hidup dengan penuh kebahagiaan. Ia tekun dan rajin dalam kesehariannya. Ia memelihara beberapa ekor kambing di rumahnya, memberi minum dan makan kepada mereka dengan mengharap pahala dari Allah ﷻ. Itulah kehidupan yang ia pilih, dan ia merasa bahagia serta ridha dengan bagian yang Allah berikan kepadanya.

Wajah yang ramah dan akhlak yang lembut adalah sifat yang paling dicintai oleh jiwa manusia. Sifat itu dapat menyatukan hati, memberikan ketenangan dan harapan akan masa depan yang cerah. Berbuat baik kepada tetangga adalah salah satu bentuk kebaikan terbaik yang dapat diberikan seseorang kepada sesama manusia. Betapa kita sangat membutuhkannya pada masa sekarang. Kita harus menghidupkan kembali nilai itu dan tidak membiarkannya hilang.

Allah ﷻ berfirman :

﴾ وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَالْجَارِ الْجُنُبِ ﴿

(QS. An-Nisa: 36)

Artinya : “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, kerabat, anak yatim, orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh.”
(QS. An-Nisa: 36).

Rasulullah ﷺ bersabda :

مَا زَالَ جِبْرِيلُ يُوصِينِي بِالْجَارِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ

(HR. Bukhari dan Muslim).

Artinya : “Jibril terus menerus berwasiat kepadaku agar berbuat baik kepada tetangga, sampai aku mengira bahwa tetangga itu akan dijadikan sebagai ahli waris.”
(HR. Bukhari dan Muslim).

Dan Rasulullah ﷺ juga bersabda :

وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ، وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ، وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ. قِيلَ: مَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: الَّذِي لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ

(HR. Bukhari).

Artinya : “Demi Allah, tidak beriman! Demi Allah, tidak beriman! Demi Allah, tidak beriman!”
Para sahabat bertanya: “Siapa wahai Rasulullah?”
Beliau menjawab: “Orang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya.”
(HR. Bukhari).

Berbuat baik kepada tetangga merupakan bagian dari kesempurnaan iman dan akhlak seorang muslim. Islam sangat menekankan pentingnya menjaga hubungan baik dengan tetangga, membantu mereka, tidak menyakiti mereka, serta menebarkan kebaikan di lingkungan sekitar.

و صلّى اللّه على نبيّنا محمّد و على آله و صحبه و سلّم

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *