Tauhid Uluhiyyah adalah mengesakan Allah ﷻ dalam segala bentuk ibadah.
Kata “Ilah” berarti al-ma’luh, yaitu sesuatu yang disembah dengan penuh cinta dan pengagungan.
Adapun iman kepada uluhiyyah Allah ﷻ berarti meyakini bahwa Allah ﷻ adalah satu-satunya Tuhan yang berhak disembah dengan benar dan tidak memiliki sekutu.
Allah ﷻ telah menetapkan keesaan-Nya dalam uluhiyyah dan membatalkan ketuhanan selain-Nya dengan dalil-dalil syar‘i dan dalil-dalil aqli(akal).
Dalil-Dalilnya
Allah ﷻ berfirman :
﴾ وَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ ﴿
(QS. Al-Baqarah: 163).
Artinya :“Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Dia, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.”
(QS. Al-Baqarah: 163).
Dan Allah ﷻ berfirman :
﴾ وَقَالَ اللَّهُ لَا تَتَّخِذُوا إِلَهَيْنِ اثْنَيْنِ إِنَّمَا هُوَ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَإِيَّايَ فَارْهَبُونِ ﴿
(QS. An – Nahl : 51).
Artinya :“Dan Allah berfirman: Janganlah kamu menyembah dua tuhan; sesungguhnya Dialah Tuhan Yang Maha Esa, maka hanya kepada-Ku lah kamu harus takut.”
(QS. An-Nahl: 51).
Dan Allah ﷻ berfirman :
﴾ لَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ فَقَالَ يَاقَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ ﴿
(QS. Al – A’raf : 59).
Artinya :“Sungguh, Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu dia berkata: ‘Wahai kaumku, sembahlah Allah! Tidak ada tuhan bagi kalian selain Dia. Sesungguhnya aku takut kalian akan ditimpa azab pada hari yang besar.’”
(QS. Al-A‘raf: 59).
Dan Allah ﷻ berfirman :
﴾ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ ﴿
(QS. Al-Hajj: 62).
Artinya :“Yang demikian itu karena sesungguhnya Allah adalah Yang Maha Benar, dan apa yang mereka sembah selain Dia adalah batil, dan sesungguhnya Allah Mahatinggi lagi Mahabesar.”
(QS. Al-Hajj: 62).
Dalil-dalil Aqli (Dalil Akal)
Di antara bukti secara akal bahwa sesembahan selain Allah tidak pantas disembah adalah :
Sesembahan tersebut tidak memiliki sifat-sifat ketuhanan. Mereka hanyalah makhluk yang :
- tidak mampu menciptakan,
- tidak mampu memberi manfaat,
- tidak mampu menolak bahaya,
- tidak memiliki kekuasaan atas hidup dan mati.
Allah ﷻ berfirman :
﴾وَاتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ آلِهَةً لَا يَخْلُقُونَ شَيْئًا وَهُمْ يُخْلَقُونَ وَلَا يَمْلِكُونَ لِأَنْفُسِهِمْ ضَرًّا وَلَا نَفْعًا وَلَا يَمْلِكُونَ مَوْتًا وَلَا حَيَاةً وَلَا نُشُورًا ﴿
(QS. Al – Furqan : 3).
Artinya :“Dan mereka mengambil tuhan-tuhan selain Allah yang tidak dapat menciptakan sesuatu pun bahkan mereka sendiri diciptakan, dan tidak kuasa mendatangkan kemudaratan maupun kemanfaatan bagi diri mereka, serta tidak memiliki kekuasaan atas kematian, kehidupan, dan kebangkitan.”
(QS. Al-Furqan: 3).
Allah ﷻ berfirman :
﴾ أَيُشْرِكُونَ مَا لَا يَخْلُقُ شَيْئًا وَهُمْ يُخْلَقُونَ * وَلَا يَسْتَطِيعُونَ لَهُمْ نَصْرًا وَلَا أَنْفُسَهُمْ يَنْصُرُونَ ﴿
(QS. Al – A’raf 191-192).
Artinya :“Apakah mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang tidak dapat menciptakan apa pun, bahkan mereka sendiri yang diciptakan? Dan berhala-berhala itu tidak mampu memberi pertolongan kepada penyembahnya dan tidak pula mampu menolong dirinya sendiri.”
(QS. Al-A‘raf: 191–192).
Hubungan Tauhid Rububiyyah dan Uluhiyyah
Pengakuan orang-orang musyrik bahwa Allah ﷻ adalah Rabb (Pencipta dan Pengatur) seharusnya mengharuskan mereka mentauhidkan Allah ﷻ dalam ibadah.
Karena Dzat yang menciptakan, memberi rezeki, dan memberikan nikmat adalah Dzat yang paling berhak disembah, disyukuri, dan diikhlaskan ibadah kepada-Nya.
Allah ﷻ berfirman :
﴾ يَاأَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ * الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ ﴿
(QS. Al-Baqarah: 21–22).
Artinya :“Wahai manusia! Sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagi kalian dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air dari langit lalu dengan air itu Dia menghasilkan berbagai buah-buahan sebagai rezeki untuk kalian. Maka janganlah kalian mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah padahal kalian mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah: 21–22).
و صلّى اللّه على نبيّنا محمّد و على آله و صحبه و سلّم

