shalat2

Keutamaan Shalat dan Pengaruhnya dalam Kehidupan Seorang Muslim

Pendahuluan

Shalat adalah ibadah yang sangat tua dalam sejarah agama-agama. Tidak dikenal satu agama pun tanpa shalat. Ia merupakan syiar bersama para nabi dan rasul sejak dahulu hingga Nabi Muhammad ﷺ. Al-Qur’an mengabadikan doa Nabi Ibrahim عليه السلام :

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ ﴿
“Wahai Rabbku, jadikanlah aku orang yang tetap mendirikan shalat dan (jadikan pula) anak cucuku (orang-orang yang mendirikannya). Wahai Rabb kami, kabulkanlah doaku.”
(QS. Ibrahim: 40).

Allah ﷻ juga memuji Nabi Ismail عليه السلام :

وَكَانَ يَأْمُرُ أَهْلَهُ بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ وَكَانَ عِنْدَ رَبِّهِ مَرْضِيًّا ﴿
“Dan dia menyuruh keluarganya untuk mendirikan shalat dan menunaikan zakat, dan dia adalah seorang yang diridhai di sisi Rabbnya.”
(QS. Maryam: 55).

Demikian pula perintah Allah ﷻ kepada Nabi Musa عليه السلام pada awal wahyu :

إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي ﴿
“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku.”
(QS. Thaha: 14).

Dan wasiat Luqman kepada putranya :

يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ ﴿
“Wahai anakku, dirikanlah shalat, suruhlah kepada yang ma‘ruf dan cegahlah dari yang mungkar.”
(QS. Luqman: 17).

Shalat adalah ibadah pertama yang diwajibkan kepada umat Islam, dan satu-satunya ibadah yang difardhukan langsung di langit pada peristiwa Isra’ dan Mi‘raj, tanpa perantara.

Kedudukan Shalat dalam Islam

Shalat memiliki kedudukan yang tidak tertandingi oleh ibadah lain. Rasulullah ﷺ bersabda :

«رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلاَمُ، وَعَمُودُهُ الصَّلاَةُ، وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ»
“Pokok perkara adalah Islam, tiangnya adalah shalat, dan puncaknya adalah jihad di jalan Allah.”
(HR. at-Tirmidzi).

Ketika ditanya tentang amalan yang paling utama, Rasulullah ﷺ menjawab :

«الصَّلاَةُ لِوَقْتِهَا»
“Shalat pada waktunya.”
(HR. al-Bukhari dan Muslim).

Shalat sebagai Penghapus Dosa

Shalat merupakan sarana pensucian jiwa dan penghapus dosa. Rasulullah ﷺ bersabda :

«مَثَلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ كَمَثَلِ نَهَرٍ غَمْرٍ عَلَى بَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ فِيهِ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسَ مَرَّاتٍ»
“Perumpamaan shalat lima waktu seperti sungai yang deras di depan pintu salah seorang dari kalian, ia mandi di dalamnya lima kali sehari.”
(HR. Muslim).

Beliau juga bersabda :

«مَا مِنِ امْرِئٍ تُحْضِرُهُ صَلاَةٌ مَكْتُوبَةٌ فَيُحْسِنُ وُضُوءَهَا وَخُشُوعَهَا إِلَّا كَانَتْ كَفَّارَةً لِمَا قَبْلَهَا مَا لَمْ تُؤْتَ كَبِيرَةً»
“Tidaklah seorang hamba menghadiri shalat wajib lalu ia menyempurnakan wudhunya, khusyuk dan rukuknya, kecuali shalat itu menjadi penghapus dosa-dosa sebelumnya selama tidak melakukan dosa besar.”
(HR. Muslim).

Shalat dalam Segala Keadaan

Allah ﷻ memerintahkan untuk menjaga shalat dalam segala kondisi :

حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى ﴿
“Peliharalah semua shalat dan shalat wustha.”
(QS. al-Baqarah: 238).

Bahkan dalam kondisi takut dan perang :

فَإِنْ خِفْتُمْ فَرِجَالًا أَوْ رُكْبَانًا ﴿
“Jika kamu dalam keadaan takut, maka shalatlah sambil berjalan atau berkendaraan.”
(QS. al-Baqarah: 239).

Shalat sebagai Tolak Ukur Amal

Rasulullah ﷺ bersabda :

«أَوَّلُ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الصَّلَاةُ»
“Amalan pertama yang akan dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah shalat.”
(HR. ath-Thabrani).

Shalat juga merupakan wasiat terakhir Rasulullah ﷺ :

«الصَّلَاةَ، الصَّلَاةَ، وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ»
“Jagalah shalat, jagalah shalat, dan perhatikanlah hamba sahaya kalian.”

Ancaman bagi yang Melalaikan Shalat

Allah ﷻ mengancam bagi siapa yang menyia-nyiakan shalat :

فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ ﴿
“Maka datanglah setelah mereka generasi yang menyia-nyiakan shalat dan mengikuti syahwat.”
(QS. Maryam: 59).

Rasulullah ﷺ bersabda :

«بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلَاةِ»
“Batas antara seseorang dengan kekafiran adalah meninggalkan shalat.”
(HR. Muslim).

Shalat dan Pengaruhnya terhadap Akhlak

Shalat yang benar akan membentuk akhlak mulia dan mencegah perbuatan keji :

إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ ﴿
“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.”
(QS. al-‘Ankabut: 45).

Shalat yang dikehendaki Islam adalah shalat yang disertai khusyuk dan hadirnya hati, sebagaimana firman Allah ﷻ :

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ * الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ ﴿
“Sungguh beruntung orang-orang beriman, yaitu mereka yang khusyuk dalam shalatnya.”
(QS. al-Mu’minun: 1–2).

Shalat sebagai Penolong dan Penentram Jiwa

Allah ﷻ berfirman :

اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ﴿
“Mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat.”
(QS. al-Baqarah: 153).

Penutup

Shalat bukan sekadar gerakan dan bacaan, melainkan ibadah yang hidup, yang menghubungkan hamba dengan Rabb-nya, membersihkan jiwa, memperbaiki akhlak, memperkuat iman, serta membangun masyarakat yang berlandaskan persaudaraan dan ketakwaan. Barang siapa menjaga shalatnya, maka ia telah menjaga agamanya; dan barang siapa menyia-nyiakannya, maka ia telah meruntuhkan tiang agamanya sendiri.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *